{"id":134,"date":"2026-02-10T06:32:51","date_gmt":"2026-02-10T06:32:51","guid":{"rendered":"https:\/\/rsbhayangkaratk3.kalsel.polri.go.id\/?p=134"},"modified":"2026-02-10T06:33:37","modified_gmt":"2026-02-10T06:33:37","slug":"mengenal-demam-tifoid","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/rsbhayangkaratk3.kalsel.polri.go.id\/index.php\/2026\/02\/10\/mengenal-demam-tifoid\/","title":{"rendered":"Mengenal Demam Tifoid"},"content":{"rendered":"\n<p><strong><a href=\"https:\/\/rsbhayangkaratk3.kalsel.polri.go.id\/\" data-type=\"link\" data-id=\"https:\/\/rsbhayangkaratk3.kalsel.polri.go.id\/\">Demam Tifoid &#8211;<\/a><\/strong> Demam tifoid adalah penyakit infeksi akibat bakteri Salmonella typhi. Penyakit infeksi ini umumnya menular melalui makanan atau minuman yang tercemar feses atau urine penderita. Jika tidak ditangani secara tepat, penyakit ini bisa menimbulkan komplikasi yang berakibat fatal.<br>Demam tifoid atau tipes banyak terjadi di negara-negara Asia, termasuk Indonesia. Di Indonesia, demam tifoid tergolong penyakit endemik. Diperkirakan 500 dari tiap 100.000 penduduk Indonesia terserang demam tifoid setiap tahunnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Meski sama-sama disebabkan oleh bakteri Salmonella, demam tifoid berbeda dengan infeksi Salmonella (salmonelosis). Salmonelosis disebabkan oleh bakteri Salmonella, sedangkan demam tifoid disebabkan oleh salah satu jenis bakteri Salmonella, yaitu Salmonella typhi.<br>Demam tifoid atau tipes juga berbeda dengan tifus atau typhus. Tifus disebabkan oleh bakteri Rickettsia dan Orientia.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-full is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"650\" height=\"434\" src=\"https:\/\/rsbhayangkaratk3.kalsel.polri.go.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/7-cara-menurunkan-demam-pada-orang-dewasa-tanpa-obat.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-136\" style=\"aspect-ratio:1.4977497749774977;width:522px;height:auto\" srcset=\"https:\/\/rsbhayangkaratk3.kalsel.polri.go.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/7-cara-menurunkan-demam-pada-orang-dewasa-tanpa-obat.jpg 650w, https:\/\/rsbhayangkaratk3.kalsel.polri.go.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/7-cara-menurunkan-demam-pada-orang-dewasa-tanpa-obat-300x200.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 650px) 100vw, 650px\" \/><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Penyebab Demam Tifoid<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Demam tifoid disebabkan oleh bakteri\u00a0<em>Salmonella typhi.\u00a0<\/em>Bakteri ini dapat masuk dan berkembang di dalam usus setelah seseorang mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi tinja atau urine penderita demam tifoid.<br><em>Salmonella typhi\u00a0<\/em>juga dapat menular dari penderita yang sudah tidak bergejala, tetapi masih membawa bakteri tersebut. Hal ini terjadi karena penyembuhan belum dilakukan secara total sehingga\u00a0<em>Salmonella typhi\u00a0<\/em>masih tersisa di dalam usus dan dapat menular ke orang lain.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Faktor risiko demam tifoid<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Meski demam tifoid lebih sering menyerang anak-anak, ada sejumlah faktor lain yang dapat meningkatkan risiko seseorang terserang demam tifoid, yaitu:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Mengunjungi atau bekerja di daerah yang tinggi kasus demam tifoid<\/li>\n\n\n\n<li>Melakukan kontak langsung dengan penderita demam tifoid<\/li>\n\n\n\n<li>Tinggal di lingkungan yang kotor dan bersanitasi buruk<\/li>\n\n\n\n<li>Bekerja sebagai tenaga kesehatan yang menangani penderita demam tifoid<\/li>\n\n\n\n<li>Mengonsumsi sayur-sayuran atau buah-buahan yang tidak dicuci bersih<\/li>\n\n\n\n<li>Menggunakan toilet yang sama dengan penderita dan tidak mencuci tangan setelahnya<\/li>\n\n\n\n<li>Mengonsumsi makanan laut dari air yang terkontaminasi bakteri<\/li>\n\n\n\n<li>Melakukan seks melalui mulut (<em>oral sex<\/em>) dengan penderita demam tifoid<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Gejala Demam Tifoid<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Gejala demam tifoid muncul 7\u201314 hari setelah seseorang terinfeksi bakteri&nbsp;<em>Salmonella typhi.&nbsp;<\/em>Seberapa lama gejala berlangsung tergantung pada perkembangan penyakit.<\/p>\n\n\n\n<p>Penderita demam tifoid dapat mengalami gejala awal berupa:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Demam yang meningkat secara bertahap hingga mencapai 39\u201340\u00b0C<\/li>\n\n\n\n<li>Sakit kepala<\/li>\n\n\n\n<li>Nyeri otot<\/li>\n\n\n\n<li>Lelah dan lemas<\/li>\n\n\n\n<li>Keringat berlebih<\/li>\n\n\n\n<li>Batuk kering<\/li>\n\n\n\n<li>Hilang nafsu makan<\/li>\n\n\n\n<li>Berat badan menurun<\/li>\n\n\n\n<li>Sakit perut<\/li>\n\n\n\n<li>Sembelit<\/li>\n\n\n\n<li>Ruam kemerahan di kulit<\/li>\n\n\n\n<li>Pembengkakan di perut<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Jika penyakit memburuk, demam tifoid dapat menimbulkan gejala lanjutan, seperti:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Linglung atau mengigau<\/li>\n\n\n\n<li>Halusinasi<\/li>\n\n\n\n<li>Diare<\/li>\n\n\n\n<li>Menggigil<\/li>\n\n\n\n<li>Tubuh terasa sangat lelah<\/li>\n\n\n\n<li>Sulit berkonsentrasi<\/li>\n\n\n\n<li>BAB berdarah<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Pencegahan Demam Tifoid<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Salah satu upaya untuk mencegah demam tifoid adalah dengan mendapatkan vaksin tifoid. Vaksin ini terdapat dalam program imunisasi yang dianjurkan pemerintah. Meski umumnya diberikan kepada anak usia 2\u201312 tahun,\u00a0vaksin tifoid\u00a0juga dapat diberikan kepada orang dewasa yang berisiko terserang demam tifoid.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain dengan vaksin, ada beberapa upaya pencegahan lainnya yang dapat dilakukan, yaitu:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Rajin\u00a0mencuci tangan\u00a0dengan sabun dan air mengalir<\/li>\n\n\n\n<li>Menghindari konsumsi buah dan sayuran mentah yang tidak dicuci dengan air bersih<\/li>\n\n\n\n<li>Memastikan air yang akan diminum telah direbus hingga matang<\/li>\n\n\n\n<li>Menghindari konsumsi makanan mentah atau belum matang sempurna<\/li>\n\n\n\n<li>Membatasi konsumsi jajanan dan minuman yang dijual di pinggir jalan<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p><strong>Sumber :<\/strong><br><a href=\"https:\/\/www.alodokter.com\/demam-tifoid\"><em>https:\/\/www.alodokter.com\/demam-tifoid<\/em><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Demam Tifoid &#8211; Demam tifoid adalah penyakit infeksi akibat bakteri Salmonella typhi. Penyakit infeksi ini umumnya menular melalui makanan atau minuman yang tercemar feses atau urine penderita. Jika tidak ditangani secara tepat, penyakit ini bisa menimbulkan komplikasi yang berakibat fatal.Demam tifoid atau tipes banyak terjadi di negara-negara Asia, termasuk Indonesia. Di Indonesia, demam tifoid tergolong [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":135,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-134","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel-kesehatan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/rsbhayangkaratk3.kalsel.polri.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/134","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/rsbhayangkaratk3.kalsel.polri.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/rsbhayangkaratk3.kalsel.polri.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rsbhayangkaratk3.kalsel.polri.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rsbhayangkaratk3.kalsel.polri.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=134"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/rsbhayangkaratk3.kalsel.polri.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/134\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":138,"href":"https:\/\/rsbhayangkaratk3.kalsel.polri.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/134\/revisions\/138"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rsbhayangkaratk3.kalsel.polri.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/135"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/rsbhayangkaratk3.kalsel.polri.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=134"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/rsbhayangkaratk3.kalsel.polri.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=134"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/rsbhayangkaratk3.kalsel.polri.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=134"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}